Tokopedia klaim data pelanggannya terjaga, keamanan makin ketat

tokopediaMerdeka.com – Chief Operating Officer (COO) Tokopedia, Leontinus Alpha Edison mengatakan, jika Tokopedia sangat konsen dalam hal security data pelanggannya. Hal itu dirinya buktikan dengan dibentuknya tim yang setiap harinya mengurusi persoalan tersebut.

Saat awal-awal berdiri, Leontinus mengakui sisi security di Tokopedia belum sekuat seperti sekarang ini. Barulah setelah Tokopedia makin berkembang, sisi keamanan data pelanggan menjadi sesuatu mutlak yang harus makin diperkuat.

“Namun kami sadar, seiring tumbuhnya Tokopedia, maka kami harus memperkuat security itu. Saya masih ingat betul, security itu benar-benar kita perkuat saat dua tahun lalu ya dengan membentuk tim yang khusus security. Tim security kita sudah ada enam orang. Enam orang itu, tiap hari kerjanya mengaudit sistem kita. Kita ada bolong di mana, dan lain sebagainya,” ujarnya kepada Merdeka.com di kantornya Wisma 77, Jakarta, Selasa (19/1).

Oleh sebab itu, sejauh ini dia mengklaim tidak pernah ada masalah security yang datang dari sisi teknis. Namun, dia mengakui pihaknya pernah mengalami persoalan dari sisi non teknis. Yang dimaksud dengan sisi non teknis adalah tipu menipu yang dilakukan oleh oknum tak bertanggung jawab yang mengatasnamakan Tokopedia.

“Non teknis ini bahasa kerennya social engineering. Jadi, tipu-tipu menggunakan bujuk rayu melalui telepon atas nama Tokopedia. Misalnya, pernah ada yang seperti itu jika instal aplikasi Tokopedia, maka akan mendapatkan uang Rp 100 ribu. Padahal kita gak pernah janjikan seperti itu. Kalau itu, masih gampanglah bisa kita tracking,” kata dia.

Yang lebih parahnya lagi, perusahaan besutannya bersama William Tanuwijaya ini pernah mendapati ada beberapa website yang mencoba menyerupai Tokopedia dengan maksud untuk menipu. Jelas, hal itu langsung dirinya ambil tindakan. Masalahnya, gara-gara website tersebut, beberapa pelanggan terkena tipu bahkan sampai partner Tokopedia juga kena imbasnya.

“Nah, ada juga yang website-website gak jelas. Misalnya saja kalau kita kan Tokopedia.com, kalau mereka itu Tokopedla.com. Huruf ‘I’ nya pakai ‘L kecil’ jadi orang terkadang gak sedetail itu. Dan juga tampilannya sama persis kayak Tokopedia. Akhirnya beberapa user kita kena tipu,” jelasnya.

“Kita selesaikan masalah itu juga agak-agak susah ya, karena pertama edukasi ya, dan kita juga pakai tools sih, namanya Netcraft. Simplenya, Netcraft ini bisa tahu website mana saja yang mau nipu orang seperti kejadian yang pernah dialami Tokopedia. Caranya agak teknis sih. Selain itu juga, kita bisa mematikan website yang tipu-tipu itu,” imbuhnya.

Menurutnya, justru dari sisi non teknis tersebut yang butuh tenaga lebih daripada sisi teknisnya.

“Jadi insiden kita sih lebih ke arah non teknis ya dan itu sebetulnya lebih susah. Bukan berarti sisi teknis juga mudah loh. Kalau dari sisi teknis itu karena banyak ahlinya,” ucapnya.

Sumber: Merdeka.com

Facebook Comments

You May Also Like